Kendalikan Inflasi Jelang Hari Raya Idul Fitri, Pemkab Pacitan Gandeng Bulog dan PT Pos Gelar Operasi Pasar Murah

Para ibu-ibu berdesak-desakan antri menyerahkan data diri untuk membeli minyak kita saat kegiatan operasi pasar murah di pendopo kecamatan Kebonagung. Selasa, 25 Maret 2025. (FOTO : Eko Purnomo/Gardajatim)

GARDAJATIM.COM: Menjelang hari raya Idul Fitri, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan bersama dengan Perum Bulog Subdivre Ponorogo dan Pos Indonesia menggelar Operasi Pasar Murah di beberapa titik lokasi yang ada di kabupaten Pacitan.

Menurut Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, S.Pi., M.M., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengendalikan harga pangan dan stok pangan menjelang hari raya Idul Fitri.

"Dalam mempersiapkan dan mengendalikan stok dan harga barang pokok penting, biasanya menjelang ramadhan, menjelang hari raya dan hari-hari libur nasional lain, Tim pengendalian inflasi daerah selalu melaksanakan kegiatan operasi pasar pangan murah," kata Kabag Perekonomian, Muhammad Ali Mustofa saat ditemui dikantornya, Senin (24/3/2025).

Muhammad Ali Mustofa, S.Pi., M.M., Kabag Perekonomian Setda Pacitan. (FOTO: Eko Purnomo/Gardajatim)

Ia menambahkan, operasi pasar ini belum bisa dilaksanakan secara luas dan merata di seluruh wilayah yang ada di kabupaten Pacitan dikarenakan keterbatasan sumber daya. Bahkan kegiatan ini belum bisa dilaksanakan ketika awal ramadhan karena pendistribusian beras SPHP masih di tahan oleh Bulog.

Setidaknya ada empat bahan pangan yang masuk dalam kegiatan operasi pasar murah tersebut, seperti beras, gula, minyak goreng dan telur. 

Ali juga mengatakan bahwa ada enam lokasi yang menjadi pusat kegiatan operasi pasar murah menjelang hari raya Idul Fitri kali ini.

"Insyaallah ada enam lokasi. Yang pertama kemarin di kecamatan Punung, kemudian di Ngadirojo, Tulakan, Kebonagung, Arjosari dan mungkin terakhir nanti di Pacitan," imbuhnya.

Dalam operasi pasar murah kali ini, Pemkab menyediakan kuota 4 hingga 5 ton beras, kemudian minyak kita 400 liter, gula 400 kg, dan telur berkisar 200 kg tiap operasi pasar. Namun, penyerapanya bervariasi tiap masing-masing lokasi.

"Di kecamatan Punung kemarin kita sediakan kuata beras 4 ton habis. Karena habis, kita coba siapkan di Ngadirojo kemarin 5 ton, ternyata setengah saja tidak habis," ucapnya.

"Untuk minyak kita, hanya bisa melalui Bulog dengan PT Pos yang dapat mandat dari Bapanas. Kemarin hanya dapat kuota 400 liter sekali operasi pasar, gula juga sekitar 400 kg dan telur sekitar 200 kg yang kita ambil dari peternak lokal," tambahnya.

Menurutnya, minimnya penyerapan kuota beras tersebut dikarenakan masyarakat sudah mulai melakukan panen raya padi.

Selain itu, ia mengatakan bahwa operasi pasar murah ini juga untuk mengetahui stok pangan di masyarakat.

"Kalau beras langsung terserap habis, berarti memang masyarakat ini stok berasnya masih kurang. Sehingga akan mencari yang lebih murah, salah satunya ketika kegiatan operasi pasar murah ini. Dan yang terserap habis itu saat ini, minyak kita, gula dan telur," bebernya.

Harga yang di banderol dalam operasi pasar murah tersebut, untuk beras SPHP 1 zak 5 kg dijual dengan harga Rp 58.000, minyak goreng Rp 14.700, gula Rp 15.000 dan telur Rp 23.500 tiap kilonya. Dan untuk pembelian minyak kita, dibatasi maksimal 2 liter untuk satu KTP.

Lebih lanjut, Ali menyampaikan bahwa dalam kegiatan operasi pasar murah ini tidak di anggarkan dari APBD, sehingga untuk biaya operasional diambilkan dari selisih harga bahan pangan yang terjual.

Disisi lain, Mila warga Bolo, Desa Kebonagung yang turut hadir dalam kegiatan operasi pasar murah di pendopo kecamatan Kebonagung mengatakan bahwa, kurangnya antusias masyarakat dalam menyambut kegiatan ini dikarenakan minimnya sosialisasi dan juga masyarakat sudah mulai panen raya.

"Masih sepi mas, mungkin karena sosialisasinya kurang meluas dan mungkin karena masyarakat sudah mulai panen raya. Selain itu mungkin juga karena kondisi ekonomi masyarakat," kata Mila saat di wawancarai, Selasa (25/3/2025).

Sementara itu, Heri salah satu pedagang sembako mengatakan bahwa dirinya kurang tertarik dengan harga yang ditawarkan, karena rata-rata sama dengan harga yang ada di pasar.

"Kalau beras masih sama dengan di pasar, yang murah minyak sama gulanya," katanya saat mengomentari pamflet kegiatan operasi pasar murah tersebut. (Eko)

0/Post a Comment/Comments