Perempuan Jawa, Jiwa Srikandi di Tengah Gelombang Zaman

Abdi Dalem Kraton Surakarta, (kiri-kanan) Ni Lurah Yukla Latifah Subektyo, Ni Lurah Alifia Imroatus Solikah Subektyo, Ni Lurah Nala Zakia Alfara Dysa Subektyo. (Foto: dok. Pia)

GARDAJATIM.COM: Di tengah arus deras budaya asing yang membanjiri setiap sudut kehidupan, dari musik, fashion, hingga gaya hidup, ia tetap berdiri teguh sebagai penjaga warisan leluhur.

Bukan karena menolak perubahan, tetapi karena keyakinannya bahwa akar budaya sendiri adalah identitas yang tak boleh luntur.

Di saat banyak yang terhanyut dalam euforia budaya Korea, ia memilih tetap berpegang pada akar Jawa, bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan sebagai perwujudan kebanggaan dan kekuatan.

Ia bukan sekadar perempuan biasa, tetapi seorang Srikandi sejati. Srikandi bukan hanya tokoh dalam pewayangan yang mahir dalam peperangan, tetapi simbol perempuan Jawa yang kuat, cerdas, dan penuh pesona.

Dalam dirinya mengalir darah para perempuan hebat yang berani, mandiri, dan anggun dalam setiap langkahnya.

Seperti Drupadi dalam kisah Mahabharata, ia adalah sosok yang tak hanya memancarkan kecantikan lahiriah, tetapi juga kecerdasan dan keteguhan hati.

Ia memahami bahwa menjadi perempuan Jawa bukan sekedar memakai kebaya atau bersanggul, tetapi juga memiliki nilai-nilai luhur: kesantunan, keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan dalam prinsip.

Dalam setiap langkahnya, ia membuktikan bahwa modernisasi bukan berarti kehilangan jati diri.

Ia bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa harus melepas akar budayanya. Dalam balutan lurik atau batik, ia tetap memancarkan keanggunan.

Dalam tutur katanya, ada kelembutan sekaligus ketegasan. Dalam sikapnya, ada kebijaksanaan yang membuatnya disegani.

Ia adalah gambaran perempuan Jawa masa kini, yang tetap kuat di tengah gempuran zaman, tak goyah oleh tren sesaat, dan tetap memegang teguh warisan leluhurnya.

Karena baginya, menjadi perempuan Jawa bukan berarti tertinggal, tetapi justru semakin istimewa.

Sebab ia adalah Srikandi di Tengah Gelombang Zaman, seorang pejuang yang menjaga dan menghidupkan kembali kejayaan perempuan Jawa yang tak lekang oleh waktu.

Artikel oleh: Ni Lurah Nala Zakia Alfara Dysa Subektyo.

Editor: M.Ng. Fajar Setiawan Wartoprasetyo


0/Post a Comment/Comments