Mengapa Emas Berharga dan Apa Yang Membuat Harga Emas Stabil? Simak Penjelasannya!

Emas batangan bisa menjadi instrumen investasi masa depan

GARDAJATIM.COM: Emas merupakan salah satu jenis logam mulia dengan warna kuningnya yang khas.

Dalam tabel periodik pelajaran Kimia waktu SMA dulu, emas dikenal dengan lambang Au atau Aurum dalam bahasa Latin. Emas memiliki nomor atom 79. 

Dalam bentuknya yang murni, emas menampilkan warna kuning jingga yang cerah dan memiliki sifat-sifat padat, lembut, lentur, dan ulet. 

Secara kimia, emas termasuk dalam kelompok logam transisi, khususnya golongan 11, dan diklasifikasikan sebagai logam mulia. 

Emas termasuk di antara unsur kimia yang paling tidak reaktif, berada di urutan kedua terendah dalam deret reaktivitas, dan tetap padat dalam kondisi standar.

Titik leleh emas berada di suhu 1.064°C sedangkan titik didihnya berada di suhu 2.700°C.

Tidak hanya masyarakat modern saja yang menikmati nilai emas dalam perekonomian. Sejak zaman dahulu, emas sudah menjadi alat pertukaran, tabungan, jaminan, mahar, dan hadiah.

Jadi bisa disimpulkan bahwa anggapan emas memiliki nilai tinggi adalah konsep universal dan sudah mengakar kuat di pikiran masyarakat.

Lantas, dari mana sebenarnya sejarah emas bermula?

Koin emas pertama kali dikenali sebagai barang tambang oleh kerajaan Lydia yang berada di Turki pada tahun 600–625 Sebelum Masehi (SM). Raja Croesus dari kerajaan Lydia menggunakan koin emas tersebut sebagai alat pertukaran atau mata uang yang sah.

Sebelum adanya koin emas, bongkahan emas mentah sudah ditemukan pada tahun 40.000 SM di berbagai gua yang tersebar di Spanyol.

Berdasarkan sejarah emas yang diakui secara umum, peradaban Mesir memiliki andil besar dalam metode pengolahan emas yang digunakan hingga saat ini.

Pada tahun 3.600 SM, masyarakat Mesir menemukan metode untuk melakukan peleburan emas dan membuatnya menjadi berbagai bentuk yang diinginkan.

1.000 tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 2.600 SM, masyarakat Mesopotamia kuno menemukan metode menempa emas untuk dijadikan perhiasan.

Persebaran emas menjadi semakin luas dengan perdagangan di tahun 1.800 SM, di mana pedagang dari Cina dan India melakukan penukaran emas dengan sutra dan hasil alam mereka.

Penemu emas pertama di dunia sendiri tidak diketahui. Namun, pertambangan emas sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 4.000 SM, bahkan jauh sebelumnya.

Nilai emas mengalami penurunan drastis ketika terjadi Perang Dunia I. Pada tahun 1929, masyarakat dunia mulai meninggalkan emas sebagai alat tukar dan beralih ke mata uang dolar AS.

Secara histori, emas merupakan aset yang nilainya cenderung naik per tahunnya sekalipun terjadi fluktuasi setiap hari.

Jadi mengapa emas menjadi barang berharga dan mengapa harganya cenderung stabil? 

Hal itu dikarenakan emas merupakan logam mulia yang memiliki sifat tahan korosi, memiliki nilai keindahan, dan langka serta tidak mudah berubah sifat dan warnanya. 

Sehingga selain menjadi perhiasan yang biasa dipakai untuk mempercantik penampilan, emas juga digunakan sebagai investasi.

Bahkan sebelum tahun 1971, emas dijadikan underlying atau dasar untuk mencetak uang kertas oleh suatu negara. Kebijakan itu membuat Bank sentral suatu negara tidak dapat mencetak lebih banyak uang tanpa memiliki cadangan emas yang setara terlebih dahulu.

Namun kebijakan itu berubah ketika Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon pada tahun 1971 secara sepihak membatalkan konvertibilitas langsung dollar Amerika Serikat terhadap emas.

Sejak saat itu AS bisa mencetak dollar sesuka hati berdasarkan proyek atau hutang dari negara lain.

Faktor lain mengapa harga emas bisa stabil disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah permintaan dan penawaran.

Permintaan yang tidak terlalu banyak dan penawaran yang cukup, bisa membuat harga emas stabil. Namun apabila permintaan mengalami peningkatan yang tinggi, tentu harga emas pun akan melambung. Hal itu dikarenakan emas adalah barang yang langka.

Harga emas juga dipengaruhi oleh kondisi politik dunia. Jika kondisi politik suatu negara stabil, maka harga emas juga akan stabil. 

Meskipun sudah tidak terkonvert dengan dollar, nilai tukar mata uang terhadap dolar AS juga bisa mempengaruhi harga emas. 

Selain itu, kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral juga bisa mempengaruhi harga emas. 

Sekalipun begitu, masyarakat dunia tetap mengakui emas memiliki nilai yang berharga dibandingkan aset lain.

Bahkan hingga saat ini emas masih menjadi aset yang dianggap aman dalam instrumen investasi. Sekalipun harganya fluktuatif, emas masih terbilang stabil jika dibandingkan dengan aset lainnya. (Eko)

0/Post a Comment/Comments